Kuliah Sambil Usaha Jangkrik

Foto: detik.com


Hari menunjukkan pukul 14.40 WIB saya berkunjung di salah satu tempat pengusaha Jangkrik di Simpang Alue Penyareng, Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Kamis 7 Januari 2016. Rumahnya berdisain miniatur, bercat merah jambu mempunyai seradang di terasnya meneduh hawa panas di siang hari dan di bawahnya tersusun rapi bangku dan meja.
Andrian (18) kulit sawo matang, hidung mancung, rambut ikal hitam sedang duduk di pintu depan sambil nonton televisi bersama adiknya Rahmad (8) yang masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar Negeri Gunong Kleng. Andrian salah satu mahasiswa Teknik Sipil Universitas Teuku Umar yang baru saja lulus dari Teknik Furniture Sekolah Menengeh Kejuruan Negeri 2 Meulaboh. Ia adalah pengusaha Jangkrik.
“Saya memulai usaha Jangkrik sejak tahun 2012 ketika masih duduk di klas 3 Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Meureubo,” kata Andrian. 
Ketika sedang berbincang, tiba-tiba datang Rosmiati ibu Andrian menghidangkan kue “Panggabo” dari ubi jalar ungu (kue tradisional Aceh) dan dua gelas kopi di meja tempat kami duduk.
“Makan kuenya, tadi baru dibuat,” tegur Rosmiati sambil tersenyum dan kembali masuk ke dalam rumah.
Andri kembali melanjutkan perbincangan mengenai usaha yang telah lama ditempuh. Sebelum memulai usaha, Ia melihat saudaranya Pandu Tentara Negara Indonesia (TNI) yang bertugas di Korem Aceh Barat mencari penghasilan sampingan dengan memelihara Jangkrik dan dijual untuk umpan burung.
“Saya terinspirasi dengan usaha saudara, kemudian diajak untuk ikut usaha dengan diberikan 2 ons telur Jangkrik,” ujar Andrian sambil mengangkat tangannya yang tergenggam, seakan-akan sedang memegang telur tersebut.
Andri bersama ayahnya Abdul Hasib (50) mengeluarkan modal awal Rp 100 ribu untuk membuat kandang Jangkrik berbentuk kotak terbuat dari tripleks ukuran 3x2 meter persegi.
Remaja hitam manis ini terus menjelaskan dengan sangat serius, tangannya sesekali menggaruti kepala dan raut wajahnya memancarkan aura jiwa pengusaha yang penuh tantangan.
Sambil diwawancarai, Andri mengambil kue dan dimasukkan ke dalam kopi, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. “Enak ni, ayo makan terus jangan malu-malu,” sapa Andri diluang waktu wawancara. 
Jangkrik akan dipanen setelah berumur 40 hari, kemudian dipasarkan kepada pemelihara burung di beberapa daerah, seperti Aceh Barat, Banda Aceh dan Aceh Selatan tergantung pemesanan. Ia menjual seharga Rp 75 ribu per kilogramnya.
Pelihara Jangkrik sampai masa panen menghabiskan 15 kilogram umpan jagung per 3 kandang, harga per kilogram Rp 8.000. Pengusaha muda itu memberi umpan Jangkriknya 4 waktu dalam satu hari, waktu pagi, siang, sore dan malam.
“Tiap memberi umpan, harus menyiram kandang dengan botol penyemprot sampai lembab agar tidak mati,” kata Andrian.
Dulu sebelum maraknya batu akik, pemuda bersenyum manis ini memasarkan Jangkriknya 10 hingga 15 kilogram/ Rp 700 ribu hingga Rp 1,2 juta. Tetapi ketika batu akik menjadi idola masyarakat Aceh khususnya, penghasilan yang dapat dijual berkurang menjadi 5 hingga 7 kilogram atau Rp 375 sampai Rp 525 ribu, karena konsumen berkurang.
“Sekarang penjual burung sudah beralih menjadi pengasah batu akik,” tambahnya sambil tersenyum menyingir.
Ia pernah mencoba mengajukan proposal dana kepada dinas terkait untuk membantu tambahan modal usaha, namun tidak seperti yang diharapkan. Adrian sangat berharap kepada pemerintah, khususnya pemerintah Aceh Barat agar memberikan modal kepada masyarakat untuk membuka usaha. “Masyarakat banyak yang ingin usaha, namun tidak ada modal,” tambahnya. [Rahmat Trisnamal]

Post a Comment